Rings 2017: The Rebirth of Samara


Bila kita berbicara mengenai hantu berambut panjang yang keluar dari sumur, kemudian merangkak dengan pelan keluar dari layar televisi, pasti tahu dia adalah Sadako Yamamura. Hantu ini aslinya berasal dari Jepang yang diciptakan pertama kali oleh Koji Suzuki untuk film yang berjudul ‘Ringu’. Kemudian diperbarui kembali dengan remake yang berjudul ‘Ju On’ di tahun 2000.

Setelah versi Jepang sukses di pasaran, hantu Sadako berimigrasi ke Amerika Serikat. Dia muncul dalam film berjudul ‘The Rings’ pertama kali di tahun 2002. Disambung dengan ‘The Ring Two’ di tahun 2005. Karena Sadako telah pindah ke Amerika, namanya juga harus mengikuti nama Amerika, menjadi Samara Morgan. Sudah 12 tahun Samara Morgan absen dari perfilman dunia, tahun ini dia berhasil mendapatkan kepercayaan para studio Hollywood untuk kembali keluar dari sumurnya.

Film ini di dominasi oleh pemain baru di dunia perfilman Hollywood. Sutradara F. Javier Gutiérrez asal Spanyol yang sebelumnya hanya menyutradarai beberapa film pendek. Pemeran utama dan pemeran pembantu, semuanya pemain pendatang baru seperti Matilda Anna Ingrid Lutz, Alex Roe, Johnny Galecki, dan Vincent D’Onofrio.

Rings (tanpa ‘The’) masih bercerita tentang video kutukan dari Samara Morgan. Seorang anak yang mempunyai keanehan sejak lahir. Dikucilkan dan akhirnya dibunuh dengan melemparnya ke sumur. Sejak saat itulah, Samara tidak pernah berhenti menunjukkan sumurnya ke setiap orang yang menonton videonya.

Rings dimulai dengan suasana yang lebih modern yaitu di pesawat terbang. Diceritakan seorang pria yang menonton video Samara sedang dalam perjalanan dalam pesawat. Ini belum pernah terjadi di film sebelumnya. Kelihatannya si pria kalau mati tidak mau mati sendirian. Dia mengajak satu pesawat mati bersama.

Setelah dua tahun sejak peristiwa jatuhnya pesawat yang membunuh semua penumpang, terlihat seorang profesor sebuah universitas sedang melihat-lihat toko barang bekas. Di sana dia tertarik untuk membeli sebuah pemutar video jaman kuno yang masih memakai kaset VHS. Padahal video seperti ini tidak mungkin bisa di dapatkan lagi di Amerika. Jaman sudah berubah ke jaman digital. Kelihatannya sutradara tidak mau meloncat terlalu jauh dari film sebelumnya. Dia memberikan masa transisi dari video jadul ke digital.

Si profesor mendapatkan pemutar VHS beserta sebuah kaset di dalamnya. Kaset itu kemudian diputar dan keluarlah video Samara yang selalu di mulai dengan adegan sumur yang ditutup dan sebuah cermin yang memperlihatkan seorang wanita yang sedang menyisir rambutnya. Bahkan wanita yang menyisir rambut masih sama seperti di film sebelumnya. Setelah selesai menonton video, telepon berbunyi dan hanya mengatakan ‘7 hari’. Ini adalah suatu kesalahan atau kesengajaan. Seharusnya, telepon tersebut menyebutkan ‘kamu akan mati dalam 7 hari’. Bila hanya menyebutkan 7 hari saja bagaimana orang yang ditelpon tahu bahwa dia akan meninggal dalam tujuh hari. Entahlah.

Cerita melompat ke masa di mana seorang mahasiswa bernama Holt (Alex Roe) menghilang tanpa kabar. Pacarnya Julia (Matilda Anna Ingrid Lutz) terlihat kuatir dengan kondisi pacarnya. Dia pun berusaha mencari pacarnya di asrama dan universitas. Di situlah dia mengetahui bahwa profesor Gabriel (Johnny Galecki) yang telah menonton video Samara, telah membuat suatu eksperimen dengan mengajak para muridnya untuk ikut berpartisipasi. Mereka secara bergantian menonton video untuk mematahkan kutukan.

Di sinilah dunia kembali ke jamannya. Video VHS tidak lagi dipakai tetapi sudah berganti ke digital yaitu menggunakan laptop dan flashdisk.

Dengan mengikuti Gabriel, Julia akhirnya berhasil menemukan pacarnya Holt. Untuk menyelamatkan sang pacar, yang hanya tinggal beberapa jam lagi sebelum di jemput oleh Samara, Julia memutuskan menonton video tersebut untuk menggantikan posisi Holt sebagai terdakwa.

Sebenarnya mudah saja untuk membatalkan kutukan Samara, hanya perlu mencari satu orang untuk menonton video itu. Tetapi bila terus menerus seperti itu, kapan filmnya akan selesai. Sutradara memutuskan untuk membuat cerita lebih menarik lagi yaitu, video Holt yang seharusnya di kopi oleh Julia dan diberikan kepada orang lain, ternyata tidak bisa di kopi lagi. Ooops.. Samara menolak dibohongin pakai teknologi digital.

Dari sini cerita baru dibentuk dan mulai mencari cara mematahkan kutukan Samara. Julia dan Holt mulai melacak tempat di makamkannya Samara. Yang pada akhirnya, Julia dapat mengungkap sejarah ibunya Samara dan menemukan sang ayah yang ternyata masih hidup. Apakah Julia dan Holt bisa membebaskan diri dari kutukan Samara?

Secara keseluruhan film horror ini kurang begitu menakutkan. Apalagi kalau dibandingkan dengan Insidious atau Don’t Knock Twice. Tetapi melihat alternatif yang ada, film ini sudah cukup bagus. Alur cerita dari hantu Samara memang agak sulit dikembangkan. Sedangkan sutradara sendiri bukan orang yang berpengalaman dalam dunia horror. Walaupun begitu, film ini masih bisa menjadi hiburan bagi pecinta film horror. Beberapa adegan berhasil mengejutkan penonton.



Yang menjadi pertanyaan, apakah ada yang bisa mengembangkan hantu Samara Morgan setelah film ini karena videonya sudah menjadi digital dan penyebarannya sangat mudah sekali dengan menggunakan media sosial, email, dan lain-lain. Kita berharap saja tidak harus menunggu 10 tahun lagi. Kasihan Samara menganggur di dalam sumur terus.


***

No comments:

Post a Comment